BERANGKAT NGETEM

BERANGKAT NGETEM
Tukang becak ini sedang mengayuh becak kesayangan ke tempat biasa mangkal

Selasa, 05 April 2011

Jumat, 01 April 2011

TOKOH LEGENDA COMAL

WILLEM OTTO MACHENZIE, atau orang-orang tua menyebut MEKENGSI....tokoh legendaris Comal berdarah Skotlandia, Perancis dan Jawa lahir pada 24 Oktober 1876 dan wafat 25 Oktober 1970. Beliau sangat berperan dalam banyak peristiwa penting Comal pada khususnya dan Pemalang pada umumnya. Misalnya pada pembangunan pabrik Gula... Comal Lama ( Spiritus ) dan Comal Baru, Perkebunan Karet Kalilanang Payung Bodeh, Perkebunan Kelapa Sirawung / Sigeseng, Peristiwa Tiga Daerah dll.

Beliau walaupun menurut Prof Soetomo Siswokartono bergama Budha tapi menurut Bp H Tolchah ( menantu ) minta dimakamkan secara Islam dan sekarang makamnya ada di Pemakaman Keluarga Gebyog. Banyak orang percaya bahwa saat hidupnya beliau memiliki kemampuan lebih, bahkan ada yang menganggap aulia ( orang suci ). Misalnya dapat berkomunikasi dengan hewan, beliau mampu memanggil burung bangau untuk turun ke rumah. Sehingga tak heran bila banyak burung beterbangan di lingkungan rumah beliau.

Aku bukan ilmuwan apalagi profesor, aku hanya wong biasa.... . Tapi ada dorongan besar untuk mengungkap dan mendokumentasikan perjalanan hidup beliau yang satu ini. Tidak tahu kenapa.
Tolong aku dibantu. Aku mengharap partisipasi sampeyan semua.... matur nuwun....

LEGENDA COMAL DAN PERKEBUNAN KELAPA

COMAL HISTORY. Gambar William Otto Mackengzie dan istri ( Nyonya Tarsih ). Beliau memiliki 4 anak angkat, Tjoesirah ( Alm ), Mustofa ( Alm ), Solemah dan Mariatie. Mekcengsi ini pada tahun 1917 membuka hutan Sigeseng / Siremeng ( Pesantren, Kendaldoyong, Klareyan dll ) dijadikan perkebunan Kelapa. Kita tahu bahwa hutan Sigeseng penuh dengan misteri, kapal di laut Jawa sering 'berlabuh' di Sigeseng pada malam hari karena mengira pelabuhan yang ramai, terakhir terjadi tahun 1980-an. Orang-orang percaya bahwa Sigeseng adalah istana sebuah kerajaan, beberapa orang penguasa Pemalang saat ajal menuju ke hutan ini. Mekcengsi pada saat hidup sering melihat kereta kencana lewat depan rumahnya yang terletak di tengah perkebunan itu. Di Sigeseng juga ada makam ( petilasan ) Syech Sitidjenar dan bahkan Baurekso...entahlah.
Perkebunan Kelapa ini sekarang masih ada dan terakhir tanah tersebut menjadi persoalan, baca di
http://www.radartegal.com/index.php/Warga-Kendalrejo-Audensi-ke-Dewan.html
Dulunya hutan Sigeseng terbelah oleh kali Comal yang membujur ke Barat lewat Kendaldoyong ( Kendalrejo ? ) dan Klareyan, dan bermuara di desa Asemdoyong. Jadi Sungai Comal yang lurus ke utara itu sebetulnya hasil kerja paksa para napi di jaman Belanda dikarenakan sering terjadinya banjir.
Mohon barangkali poro sedulur punya koreksi data atau tambahan info yang ada sangkut pautnya dengan ini semua. Kulo ngaturaken matur nuwun sanget, Wassalam

Minggu, 26 Desember 2010

aku mengejar tetesan embun
yang tak kunjung hinggap di dedaunan
mungkin takut pada udara panas menyengat
yang membakar semak belukar dan ilalang kehidupan

angin, pucuk cemara dan burung kecil yang sedang menanti
datangnya dewa dari segala penjuru
menengadah, menghiba dan bersujud memohon
sungguh besar harapan dan do'a sang alam

I catch the dew drops
that never landed on the leaves
may fear the sting of hot air
the burning bush and the weeds of life

wind, pine shoots and small birds who are waiting
god coming from all directions
looked up, pleading and begging prostrate
really big hopes and prayers of the natural

Senin, 11 Oktober 2010

Mengenang Ibnu Rusydi; Mengenang Dunia Ilmu


Surel Cetak PDF
Mengenang Ibnu Rusydi adalah mengenang masa kejayaan islam, mengenang betapa dinamisnya transformasi ilmu, mengenang tokoh-tokoh besar semasanya. Mengenang suatu masa dimana ilmu, pengetahuan, kebudayaan, intelektualisme, profesionalisme lebih dihargai, lebih bernilai dari harta; emas dan permata.
Mengenang Ibnu Rusydi adalah mengenang suatu masa dimana kondisi ideal masyarakat; intelektual, pemikir tersebar di sudut-sudut kota, pelosok-pelosk desa. Pelajar-pelajar berdatangan dari daerah, negeri-negeri, baik yang dekat maupun yang jauh. Itulah kondisi masyarakat yang menjadi proyeksi dan tujuan diturunkannya al Quran. Kondisi sosial masyarakat tamadun atau  madani, suatu komunitas masyarakat yang berperadaban.

Ibnu Rusydi dilahirkan  pada tahun 520 H di kota Qordoba sebuah kota Metropolitan kala itu di Andalusia pada abad 6.  Pada saat itu jika kita menyebut, Atena, Rowawi, Iskandariah, Badhdad, kita tidak bisa memisahkannya dari kota Qordoba. Sekitar 150 tahun sebelumnya Khalifah al Muntashir Billah, seorang Khalifah  yang mempunyai perhatian besar pada dunia intelektualisme wafat (366 H), beliau adalah khalifah dari bani Umayah.

Al Muntashir Billah mengumpulkan berabagai literatur, membangun perpustakaan yang besar, yang belum pernah di bangun oleh seorangpun di Dunia ketika itu. Ibnu Khaldun dalam Muqadimahnya berkata: ” ... khalifah mengutus para saudagar dan para pedagang, dibekali uang untuk mencari, memburu kitab di bebagai daerah. Sehingga tak heran jika di Andalusia terkumpul ribuan kitab yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui.

Di kisahkan khalifah menghadiahkan sejumlah uang pada seorang ulama yang mengarang kitab Agghani, Abi al Faraj al Isfihani. Seorang ulama yang masih mempunyai hubungan darah dengan Bani Umayah. Selain dihadiahi uang emas seribu dinar, Abi al Faraj al Isfihani di beri salinan kitab itu sebelum di bawa ke Irak (untuk dibawa ke Andalusia).

Hal yang sama dilakukan pula pada Qadhi al Abhuri al Maliki atas jasanya dalam mensyarahi Mukhtashar ibnu Abdul Hikam. Demikian pula dengan ulama-ulama lainnya. Khalifah mengumpulkan para penulis yang handal, serta orang-orang ahli penjilid kitab. Hingga Andalus memiliki perpustakaan yang sangat lengkap. Sebuah capaian yang  tidak dapat digapai oleh orang setelah maupun sebelumnya ...”.

Suri tauladan khalifah dalam mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, dan semangatnya, perhatiannya dalam mengumpulkan kitab-kitab itu ditiru oleh para saudagar, dan para konglomerat di Andalusia. Baik mereka yang gemar membaca maupun tidak. Al Hadhrami mengisahkan satu kejadian yang membuatnya terkagum-kagum.

Al Hadhrami berkisah : ”suatu ketika aku singgah di kota Qordhoba, aku mendatangi pertokoan buku-buku di kota itu. Aku berharap aku bisa mendapatkan kitab yang sudah lama aku cari. Ulam dicinta pucuk ditiba, kitab yang kucari itu aku temukan. Tulisannya bagus, penjelasannya memukau. Aku senang tidak kepalang. Aku hargai kitab itu dengan sangat mahal, melebihi harga standar kitab itu. Tiba-tiba ada seseorang yang datang kemudian menawar kitab itu lebih mahal lagi. Mencapai harga yang sungguh tinggi sekali. Aku berkata: ’ wahai tuan siapa gerangan yang menawar kitab itu sebegitu tinggi?’.

Si penawar tadi mengajak sesorang kehadapanku, dia memakai pakaian yang bagus. Kemudian aku menghampirinya, aku menegurnya: ’ tuan yang dimulyakan Allah, duhai tuanku yang alim. Jika tuan berminat untuk membeli kitab itu, aku tak jadi membelinya. Tuan telah menawarnya dengan harga yang  tinggi sekali’. Orang itu menjawab: ’aku bukanlah seorang alim, tidak pula aku memahami apa isi dari kitab itu. Hanya saja aku membangun sebuah perpustakaan di kediamanku supaya aku lebih terhormat  dalam pandangan para pemuka negriku. Dalam perpustakaanku itu masih ada tempat yang kosong, aku kira  cukup untuk kitab ini. Waktu aku melihat tulisannya yang rapi, sampulnya bagus aku tak memikirkan seberapa mahal harga kitab itu. Al Hamdulilah Allah telah memberiku harta yang melimpah”.

Dalam kondisi sosial seperti itulah  Ibnu Rusydi tumbuh. Ibnu Rusydi pernah berkelekar pada Ibnu Zuhri seorang ulama sekaligus filsuf. Saat itu keduanya di hadapan al Manshur bin Abd Mu’min, Khalifah bani Muhawahidin. ”... aku tidak mengerti apa yang kau katakan wahai Ibnu Zuhri. Yang aku tahu jika seorang cendikiawan di Isybilah wafat kitab-kitabnya di jual ke Qordoba, disana pasti laku. Tapi jika ada orang yang wafat di Qordoba harta peninggalannya dijual di Isybilah, sebab disana pasti laku”.

Dua tokoh itu adalah cendikiwan muslim cemerlang. Kepakaran dan penguasaan mereka dalam berbagai cabang ilmu menjadi bukti pencapaian luar biasa Islam pada abad itu. Pakar-pakar kenamaan di Qordoba berusaha membentuk keluarga intelektual sehingga capaian yang telah mereka gapai di raih oleh anak cucunya.

Itu menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka. Masyarakat dan para ulama di Qordoba menyebut Ibnu Rusydi al Jid ( kakek ), Ibnu Rusydi al Ibnu ( anak), Ibnu Rusydi al hafid (cucu). Untuk membedakan antara kakek anak dan cucu, yang sama-sama di panggil Ibnu Rusydi. Demikian juga untuk menyebut keluarga intelektual lainnya, Ibnu Zuhri semisal. Mereka menyebut Ibnu Zuhri al Ashgar untuk membedakan dari Ibnu Zuhri al Hafid.

Pantaslah jika mereka berkata; 'bukanlah lelaki sejati orang yang berkata inilah bapaku orang terhormat, lelaki sejati adalah orang yang berkata inilah aku yang berkepribadian dan berkemampuan'.